Saksi Sebut Ada ‘Penumpang Gelap’ di Daftar Suara Kuala Lumpur

Jakarta

Jaksa menghadirkan Ketua KPPS Luar Negeri Kuala Lumpur (KL) pos 009 dan 165, Happy Muhardi sebagai saksi kasus dugaan pemalsuan data dan daftar pemilih Pemilu 2024 dengan terdakwa tujuh anggota nonaktif Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) KL Malaysia. Happy mengatakan ada ‘penumpang gelap’ dalam daftar surat suara di Kuala Lumpur.

Hal itu disampaikan Happy saat hadir secara virtual dan diperiksa sebagai saksi dalam persidangan di kasus dugaan pemalsuan data dan daftar pemilih Pemilu 2024 Kuala Lumpur yang digelar di PN Jakarta Pusat, Senin (18/3/2024). Mulanya, jaksa mendalami soal hilangnya kotak surat suara pos milik Happy.

“Hari itu nggak ketemu, ketemunya berapa lama?” tanya jaksa dalam persidangan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Beberapa hari kemudian baru saya mendapat WA dari Pak Hendra forward foto orang-oranh lagi pada ngangkat bilang, akhirnya ketemu juga barang saya itu, 41 surat suara sisa itu,” jawab Happy.

“Diberitahukan nggak ketemunya di mana?” tanya jaksa.

“Tidak, cuman Pak Hendra WA saya, telepon saya ‘Mas Happy itu sudah ketemu kotaknya ya, besok kita serah terima kotak itu besok pagi’,”jawab Happy.

Happy mengaku kesal saat mengetahui kotak surat suaranya hilang. Dia mengatakan 41 surat suara untuk posnya seharusnya diberikan sebanyak 41 label, namun ia mengaku hanya menerima 31 label.

“Saat itu yang dipermasalahkan hanya kotak suara atau ada hal yang lain?” tanya jaksa.

“Karena saya sudah kesal ya bu, jadi datang kita tanggal 10 itu kita udah kayak kerja bikin candi gitu bu, dari malam sampai pagi, terus Sabtu-nya disuruh datang ternyata belum, ditunda dulu, tanggal 16 saya datang barangnya nggak ada. Terus saya dikasih label tanggal 16 juga harusnya 41 cuman 31. Kalau 31 kan saya pikir berarti saya nunda lagi 10 label, harusnya 41 surat suara ya 41 label, ini kami cuman dikasih 31 label,” jawab Happy.

“Ya karena kayak dipermainkan gitu lho bu, kan kami juga profesional, minta hari ini siap ya kita kerjakan, tapi kok jadinya kayak ya nanti ya nanti ya seperti itu, kan kita juga punya kesibukan lain bu, kita bukan pengangguran juga, jadi saya bilang pada waktu itu ada Panwas juga, nanya ‘ini ribut-ribut kenapa?’. Ya saya bilang surat suara saya nggak ketemu, itu tanggung jawab saya karena saya ketua KPPSLN 165 itu bu,” lanjut Happy.

Happy menyebut jumlah label harus sesuai dengan jumlah surat suara. Dia mengaku sempat menemukan ada label yang double untuk satu surat suara saat proses pencocokan.

“Kemudian ya saya juga menyampaikan ada beberapa surat, label, jadi tugas kita memasang label di surat suara, suaranya 500 ya labelnya 500. Tapi pada kenyataannya banyak label yang double , artinya kan akan berkurang itu, tidak 500-500 nya terpasang label. Ada juga label-label yang tidak ada di list nama DPT itu bu, jadi kami juga dapat listing DPT, kita harus kita cocokkan, misalnya nama si A ada nggak di DPT, kalau ada tempel tempel. Tapi ada juga yang nama A itu sudah di pasang, ada lagi, kemudian setelah kita cari itu, ketemu lagi namanya sudah kita centang, berarti kan double, kita sobek,” kata Happy.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *