Polling Suara Surabaya: Masyarakat Cenderung Belanja di E-Commerce Lokal

TikTok Shop dilaporkan akan buka lagi di Indonesia. Kabarnya TikTok Shop menggandeng salah satu e-commerce lokal.

Teten Masduki Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) mengaku mendapat konfirmasi bahwa TikTok akan menggandeng platform lokal dari sejumlah platform lokal. Bahkan platform itu sudah diajak berdiskusi.

Teten tidak mempermasalahkan kalau TikTok Shop akan dibuka lagi di Indonesia. Tapi harus menghormati dan menghargai lima syarat.

Pertama. TikTok harus menaruh respek terhadap ekonomi nasional. Kedua, TikTok diharapkan membangun model bisnis yang berkelanjutan. Ketiga. Tiktok diminta tidak lagi melakukan predatory pricing atau memperdagangkan produk atau jasa dengan harga sangat rendah, untuk menyingkirkan atau mematikan usaha kompetitor.

Keempat, Tiktok maupun platform global diharapkan tidak memasukan produk impor dumping alias menjual barang di luar negeri dengan harga yang lebih murah dibandingkan dalam negeri. Kelima, TikTok maupun platform global diharapkan mengakomodir dan tidak mendiskriminasi produk UMKM lokal.

Terkait belanda online, apakah Anda belanja di e-commerce lokal atau e-commerce luar negeri?

Dalam diskusi di program Wawasan Polling Suara Surabaya pada Kamis (30/11/2023) pagi, sebagian besar masyarakat memilih berbelanja di e-commerce lokal.

Dari data Gatekeeper Radio Suara Surabaya, dari 13 pendengar yang berpartisipasi, delapan di antaranya (62 persen) belanja di e-commerce lokal. Sedangkan lima lainnya (38 persen) memilih berbelanja di e-commerce lokal luar negeri.

Sementara dari data di Instagram @suarasurabayamedia, 98 votes (82 persen) memilih belanja di e-commerce lokal. Sedangkan 22 lainnya (18 persen) menyatakan berbelanja di e-commerce lokal luar negeri.

Menanggapi hal tersebut, Andri Firmansyah Founder & Strategic Director of Digimaru mengatakan bahwa comeback TikTok Shop sebenarnya sudah terprediksi sejak awal. Kembalinya TikTok Shop ini tidak boleh dilewatkan para penjual.

“Kita harus manfaatkan momentum. TikTok Shop salah stau platform yang paling digemari usia muda sampai 40 tahun ke atas,” ujar Andri saat mengudara di Radio Suara Surabaya.

Andri menjelaskan bahwa TikTok Shop jauh berbeda dengan platform lainnya. Dulu, ketika era Instagram, hal terpenting adalah hasil foto yang bagus. “Sedangkan di TikTok, penjual harus belajar membuat konten video yang benar,” terangnya.

Selain itu, ada pelbagai kemampuan lain yang dipelajari. Sebab TikTok Shop berformat live shopping, di mana cara berjualan seperti inilah yang digemari masyarakat dewasa ini.

“Maka penjual harus kreatif. Sebab sayang sekali jika kita tidak memanfaatkan momentum ini,” harapnya.

Kepada para penjual yang masuk menggunakan cara konvensional, Andri mengajak untuk mengepakkan sayap ke dunia online. Serta mulai belajar ilmu konten.

Sementara itu, Budi Primawan Wakil Ketua Umum Indonesian E-Commerce Association (idEA) menjelaskan jika TikTok Shop dibuka kembali, maka pedagang memiliki kanal baru untuk berjualan. Sedangkan untuk pembeli, ada opsi baru untuk belanja.

Ia juga berharap para pedagang memanfaatkan momentum kembalinya TikTok Shop untuk mengembangkan usahanya.

“Ada teknolpgi besar ini bisa membantu mengembangkan bisnis. Daripada berjualan di satu lokasi, kalau di e-commerce kan pembelinya bisa beda kota atau bahkan beda pulau,” katanya.

Para penjual juga diimbau tidak ragu bergabung dengan e-commerce. Sebab ada banyak pelatihan yang bisa diikuti. Materi pelatihan itulah yang bisa bermanfaat untuk mengembangkan bisnis.

“Begitu seseorang buka toko di marketplace, itu sudah masuk jaringan training dan pelatihan yang ada. Tinggal mau tidak untuk berkembang,” ucapnya. (saf/ipg)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *