Kisah Maria Tinggal Bersama 3 Anak di Gubuk Reyot, Hanya Makan Ubi di Lamba Leda Selatan

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, BORONG – Maria Evin (42) warga dusun Heso, Desa Golo Wune, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bertahun-tahun tinggal bersama tiga orang anaknya dibawa gubuk reyot tanpa listrik.

Disebutkan, Maria bersama anaknya susah memperoleh makan karena keterbatasan ekonomi.

Maria berkisah ia berupaya membesarkan anaknya sendiri karena suaminya pergi merantau tidak pernah pulang-pulang dan tanpa menafkahi mereka bertahun-tahun.

Karena itu, ia bersama tiga orang anaknya bertahan hidup tinggal dibawa gubuk reyot berukuran 2×3 meter. Kondisi gubuk ini pun memprihatinkan nyaris ambruk.

Baca juga: BMKG Sebut Wilayah Manggarai Timur dan Manggarai Hari Ini Berpotensi Hujan

Gubuk tersebut terbuat dari atap seng namun sudah bocor. Saat musim hujan mereka akan sengsara apalagi dinding dari pelepah bambu yang sudah berlubang-lubang dimakan rayap karena termakan usia dan lantainya beralaskan tanah yang debu dan kotor.

Di dalam gubuk ini tanpa kamar tidur. Segala aktifitas disatukan di dalam ruangan sempit ini baik itu tungku api dapur dan kamar tidur. Ia bersama tiga anaknya juga tidur di bale-bale hanya beralaskan tikar yang usam tanpa kasus atau spon. Sedih memang kondisinya.

Gubuk ini juga tanpa lampu penerangan listrik padahal di kampung itu sudah masuk listrik dari PT PLN. Karena keterbatasan ekonomi, Maria bersama tiga orang anaknya terpaksa hidup dinaungi gelap gulita hanya mengandalkan lampu pelita.

Baca juga: Wisata Sejarah, Melihat Jejak Soekarno di Ende Pulau Flores

“Saya dan tiga anak saya ini sudah bertahun-tahun tinggal di pondok ini, suami saya ada tapi pergi merantau di Kalimantan dan tidak pernah kasih kabar apalagi kasih kami uang. Kami terpaksa bertahan hidup di dalam gubuk ini. Saat hujan karena atap seng bocor kami mengungsi ke rumah tetangga. Kami juga tidak ada listrik, mau pasang listrik uang dari mana, hanya mau cari makan pun susah sekali,”kisah Maria Rabu 21 Februari 2024.

Untuk bisa makan, kata Evin, ia harus banting tulang dengan bekerja harian untuk membersih kebun orang yang membutuhkan jasanya dengan upah yang diberi Rp 25 ribu/hari.

Uang harian itu dimanfaatkan sebagian beli beras dan kebutuhan pokok lainnya.

“kalau tidak dapat harian berarti tidak bisa beli beras. Kalau tidak ada uang beli beras, terpaksa saya harus pergi ngemis bon di kios. Kadang juga pergi di keluarga. Kalau itu juga tidak ada, kami makan apa saja yang ada. Makan ubi, intinya perut kenyang,”ujar Maria.

Maria mengaku ia mendapat bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah pusat. Namun, jumlahnya sedikit dan tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

“Paling besar Rp 150 ribu. Jumlah ini tidak cukup untuk kebutuhan kami apalagi biaya anak sekolah. Saya punya anak satu masih SD dan yang satu lagi hanya tamat SD mau lanjut SMP tidak sanggup lagi saya,”ungkap Maria sedih.

Karena itu, Maria berharap agar ada bantuan dari orang-orang yang berbelas kasih dan pemerintah. Sehingga kerinduan bertahun-tahun untuk memperbaiki gubuk dan pemasangan listrik dapat terwujud.

“Semoga ada orang baik yang bisa membantu dan peduli dengan keadaan kami ini. Semoga pemerintah yang di atas juga bisa melihat penderitaan keluarga saya,” imbuh dia. (rob)

Berita TRIBUNFLORES.COM Lainnya di Google News

BERITATERKAIT

Baca Juga

Ikuti kami di

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *