Jerman, Negara yang Tengah Memendam Amarah?

Jakarta

Masih segar di ingatan orang Jerman, mantan Kanselir Angela Merkel (CDU) memenangkan pemilihan federal dengan melakukan satu hal, yakni dengan tidak melakukan apa pun. “Anda kenal saya,” demikian slogan kampanyenya, dan poster-poster memperlihatkan tangannya membentuk berlian. Sikap ini seolah bersifat meditatif bagi Merkel. Dia pernah berkata bahwa sikap tubuh semacam ini membantunya menjaga jarak dengan lawan bicaranya.

Pada titik tertentu, postur berlian juga menjadi simbol politik. Hal ini mewakili janji kepada para pemilih bahwa tidak akan ada perubahan besar dalam kehidupan mereka yang sejahtera dan damai, dan bahwa warga tidak perlu merasa khawatir, semua baik-baik saja. Dari perspektif sekarang, itu adalah sebuah kekeliruan.

Tidak siap hadapi guncangan dan krisis

Ada sebuah mentalitas yang telah berkembang dan dapat digambarkan dengan kalimat: “Ubah dunia, tetapi tidak gaya hidup saya,” demikian menurut ilmuwan politik dari Bulgaria, Ivan Krastev, pada Oktober 2023 di majalah Der Spiegel dalam percakapan dengan Menteri Ekonomi Jerman, Robert Habeck. Jerman dinilai tidak siap menghadapi krisis dan guncangan. “30 tahun terakhir ini berlangsung begitu baik, sehingga orang-orang ingin hal ini tidak berakhir.”


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah koalisi saat ini federal yang terdiri dari SPD, Partai Hijau, dan FDP dinilai tidak siap menghadapi perang di Ukraina dan konsekuensinya bagi Jerman, ketika mereka mengambil alhi kekuasaan pada Desember 2021. Mengubah Jerman, namun tanpa kehilangan kemakmuran, itulah janji koalisi Merah-Kuning-Hijau, yang sering disebut koalisi lampu lalu lintas.

Orang bahkan berpikir, transformasi menuju perekonomian dan masyarakat netral iklim dapat dilakukan tanpa kehilangan kesejahteraan. Semuanya bisa dibiayai dengan kredit baru sebesar 60 miliar euro, sebuah strategi yang kemudian dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi Jerman pada November 2023 lalu.

Sekarang, pemerintah kekurangan anggaran untuk proyek-proyek ambisiusnya. Setelah pecahnya perang Ukraina, pemerintah tidak bisa lagi menepati janjinya. Berhentinya pasokan minyak dan gas murah dari Rusia menyebabkan harga melonjak dan menjerumuskan perekonomian Jerman ke dalam resesi. Kemunduran terjadi di hampir semua sektor.

Dalam situasi ini, penghematan anggaran lebih lanjut dianggap sebagai ancaman dan tidak masuk akal. Hal ini membuat sebagian masyarakat lelah dan jengah, sebagian lagi marah kepada pemerintah. Ketika Kanselir Jerman Olaf Scholz mengunjungi daerah banjir pada Malam Tahun Baru, dia disambut dengan kata-kata penuh kemarahan. Dia diteriaki “pembohong”, “pengkhianat”, dan “penjahat”.

Kapal feri Wakil Kanselir Jerman nyaris diserbu

Yang juga merasa kecewa adalah para petani, yang subsidinya akan dipotong. Di seluruh Jerman, mereka memblokir jalan raya, datang dengan traktor dan tronton ke kota-kota untuk melakukan protes dan melumpuhkan lalu lintas.

Di wilayah utara, para petani yang marah, mungkin juga disusupi ekstremis ultra kanan, mencoba menyerbu kapal feri yang ditumpangi Wakil Kanselir dan Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck (Partai Hijau) yang pulang dari liburan Natal. Ada pemandangan dramatis yang sebelumnya hanya dilihat di bagian timur Jerman, di mana partai ultra kanan AfD menjadi sangat populer. Selama pandemi corona, demonstrasi juga berulang kali dilancarkan di depan rumah pribadi sejumlah politisi.

Tiap orang mengutamakan dirinya sendiri

Ursula Mnch, Direktur Akademi Pendidikan Politik Tutzing, melihat hal serupa, meski tidak terlalu dramatis. “Saya rasa kita tidak membicarakan perpecahan masyarakat menjadi dua bagian. Namun saya melihat bahwa wilayah periferal masyarakat semakin besar,” kata ilmuwan politik tersebut kepada DW.

Menteri Ekonomi Robert Habeck juga membicarakan hal ini dalam sebuah pernyataan video. Mnch mengatakan bahwa mereka yang “sebenarnya cenderung berbeda pendapatlah yang mengungkapkan ketidakpuasan yang kuat, yang mengadakan aksi protes.”

Untuk saat ini, kelompok tersebut adalah para petani dan serikat masinis kereta api. Keduanya adalah kelompok kepentingan yang kuat dan dapat melumpuhkan seluruh republik dengan tindakan dan aksi mogok mereka. Bagi jurnalis Albrecht von Lucke dari majalah bulanan “Bltter fr deutsche und internationale politik”, protes para petani adalah contoh nyata bahwa “setiap kelompok hanya memperjuangkan dirinya sendiri”.

Ursula Mnch menjelaskan protes para petani ini. Di satu sisi secara finansial, subsidi harus dibatalkan dengan cepat, dan orang tidak punya waktu untuk melakukan persiapan secara memadai. Para petani juga merasa diabaikan karena mereka dan asosiasinya tidak diajak bicara terlebih dahulu. “Anda merasa terpinggirkan dan tidak dianggap penting.”

Siapa pun yang berbicara dengan petani sering kali mendengar keluhan bahwa tekanan pada mereka untuk melakukan reformasi sangat besar. Selalu ada persyaratan baru untuk perlindungan iklim dan lingkungan, serta kesejahteraan hewan. Khususnya pertanian-pertanian skala kecil mengatakan bahwa mereka tidak diberi cukup waktu dan dana untuk melakukan perubahan.

Negara sudah kelewatan?

Ketika pada awal tahun 2023 muncul pernyataan bahwa pemerintah ingin melarang pemakaian pemanas rumah dengan minyak dan gas secepat mungkin, dan sebagai gantinya mengharuskan pemasangan pompa panas, muncul protes keras dari masyarakat. Reputasi Menteri Ekonomi Habeck, yang melontarkan gagasan itu, langsung jatuh, dan Partai Hijau dalam jajak pendapat anjlok.

Ilmuwan politik Mnch mengatakan: “Hingga saat itu, banyak orang berkata, kami paham, kita memang harus sedikit berubah. Namun faktanya hal itu secara langsung akan berdampak pada kantong Anda, ruang pemanas Anda, dan garasi Anda. Itulah sebenarnya yang menyebabkan orang tiba-tiba menganggap keadaan ini sebagai sesuatu yang invasif.”

AfD manfaatkan keadaan

Namun, Mnch berpendapat bahwa masyarakat Jerman tidak seharusnya frustrasi. “Maksud saya, kita jelas merupakan negara yang memiliki sumber daya besar, memiliki landasan finansial kuat, dan kita adalah negara sejahtera. Dapat dimengerti jika setiap orang mempunyai kekhawatiran, namun kita tidak boleh membiarkan diri kita terperdaya.”

Partai yang paling diuntungkan dari kondisi ini adalah AfD. Peringkat persetujuan mereka terus naik. Di negara bagian Sachsen, Thringen, dan Brandenburg, di mana pemilu negara bagian akan diadakan pada bulan September mendatang, AfD sejauh ini menduduki peringkat teratas dalam beberapa survei.

Potensi “pemilu penuh kemarahan” tahun 2024?

Ilmuwan politik Mnch memperingatkan agar warga tidak hanya mendengarkan pesan-pesan ekstremis dan populis. “Saat ini, menurut saya, sebenarnya ada ancaman atau bahaya tertentu karena sebagian masyarakat bisa dengan mudah dieksploitasi.” Jumlah orang yang percaya bahwa mereka selama ini telah diberikan informasi yang tidak benar semakin meningkat, ujarnya.

Sementara jurnalis Albrecht von Lucke memperkirakan akan terjadi “pemilu penuh kemarahan” pada tahun 2024, terutama karena tidak ada perbaikan yang terlihat dalam koalisi pemerintahan saat ini. “Perselisihan akan terus berlanjut, rasa frustrasi di negara ini akan meningkat, dan kita mungkin akan menghadapi pemilu yang penuh protes dan kebencian.” (ae/hp)

Jangan lewatkan konten-konten eksklusif berbahasa Indonesia dari DW. Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

Simak Video ‘Penampakan Traktor Petani Blokade Jalan Raya di Jerman’:

[Gambas:Video 20detik]

(ita/ita) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *